Sejarah Hotdog Sejak Awal Ditemukan Hingga Saat Ini

Masyarakat Indonesia mengenal hotdog sebagai makanan cepat saji serupa hamburger, dengan 2 lapis roti yang memiliki isian sosis dan sayur. Namun di Amerika dan beberapa negara Eropa, banyak yang menyebut sosis sebagai hotdog. Sebenarnya bagaimana sejarah hotdog hingga bisa menjadi salah satu makanan kegemaran di seluruh dunia? Berikut informasinya:

Hotdog pertama kali ditemukan pada tahun 1487

Pada tahun 1987, kota Frankurt merayakan hari jadi ditemukannya hotdog yang ke-500. Bisa dibayangkan, itu artinya hotdog sudah dikenal penduduk Frankurt sejak 500 tahun sebelumnya tahun sekitar tahun 1487. Di tahun itu, bahkan Christopher Columbus belum berlayar keliling dunia dan ia baru melakukannya di tahun 1492. Pada masa itu, hotdog atau sosis lebih dikenal dengan nama frankfurter oleh masyarakat Jerman.

Namun di belahan dunia lain ada sejarah hotdog yang berbeda.  Tepatnya di Vienna, Austria, ada sosis yang lebih dikenal dengan nama wiener. Masyarakat Vienna pun mengklaim bahwa sosis yang di kemudian hari dijadikan isian hotdog merupakan makanan asli dari Austria. Secara umum, sosis khas Jerman memiliki ukuran yang lebih besar dari sosis asal Austria.

Hotdog masuk Amerika pada tahun 1871

Pada tahun 1871, seorang pembuat roti dari Jerman bernama Charles Feltman membuka kedai hotdog pertama di Amerika, tepatnya di Coney Island. Dalam tahun pertama bisnisnya, Feltman berhasil menjual hingga 3.684 buah hotdog. Itulah pertama kalinya masyarakat Amerika mengenal hotdog dan menjadikannya sebagai makanan ringan yang lumayan bisa mengisi perut di sela-sela aktivitas mereka. Hotdog digemari karena kepraktisannya yang bisa disantap dengan satu tangan dan juga rasanya yang tergolong lezat.

Namun ada pula versi sejarah hotdog lain yang menyebutkan bahwa makanan ini pertama kali masuk ke Amerika pada tahun 1860-an, saat seorang imigran Jerman menjual sosis dengan gerobak dorong. Pada saat itu yang dijualnya adalah salah satu sosis khas Jerman dengan hidangan pendamping berupa sauerkraut (kubis yang diiris halus kemudian difermentasi sehingga rasanya menjadi asam).

Sejarah hotdog tahun 1893, produksi secara massal dimulai

Pada tahun 1893, sebuah perusahaan bernama the Colombian Exposition berusaha mencari vendor yang bisa memproduksi sosis secara massal. Pada saat itu, masyarakat Amerika sangat menggemari sosis karena mudah dikonsumsi, gampang pula untuk diolah menjadi berbagai jenis masakan, dan harganya tidak terlalu mahal. Mereka juga suka menyantap sosis dengan tambahan roti yang dikenal dengan nama hotdog karena cukup mengenyangkan.

Bahkan di tahun itu juga, hotdog menjadi salah satu makanan wajib saat ada pertandingan baseball. Tradisi ini dipercaya dimulai oleh pemilik bar St. Louis yang bernama Chris Von de Ahe, seorang imigran Jerman yang juga pemiliki klub baseball bernama St. Louis Brown. Tradisi ini bertahan hingga sekarang, di mana banyak penjual hotdog dan juga bir yang menjajakan dagangannya pada saat pertandingan baseball di Amerika.

Meski tidak sepopuler di Amerika dan tidak ada sejarah hotdog di tanah air, masyarakat Indonesia juga menggemari hotdog sebagai salah satu makanan ringan. Selain dijual di restoran dan kafe, hotdog banyak juga yang dijajakan di pinggir jalan. Isian hotdog berupa sosis sebenarnya cukup mudah dibuat sendiri, terlebih lagi ada pembungkus sosis berkualitas seperti  Devro Collagen Casing yang harganya cukup terjangkau. Untuk mendapatkan pembungkus sosis berkualitas, Anda bisa menghubungi menghubungi PT. Markaindo selaras melalui website www.markaindo.co.id atau email marketing@markaindo.co.id.