Beralih dari Boraks yang Berbahaya ke Fosfat Food Grade

Beberapa waktu belakangan, masyarakat Indonesia kerap diresahkan dengan makanan yang dicampur dalam makanan, seperti bakso, mie basah, dan kerupuk. Boraks sendiri, umumnya digunakan untuk industry kertas, pengawet kayu, pengontrol kecoa, serta industri keramik. Menilik kegunaan boraks yang sebenarnya tentu mengerikan jika boraks dicampur kedalam makanan.

Ciri makanan mengandung boraks

1. Bakso

Untuk membedakan bakso tanpa boraks dengan bakso mengandung boraks cukup mudah. Anda hanya perlu membandingkan kekenyalannya. Bakso yang mengandung boraks memiliki tekstur yang amat kenyal dan kembali ke bentuk semula setelah digigit, sedangkan bakso tanpa boraks terasa lebih empuk dan sedikit kenyal.

Selain kekenyalan, warna juga dapat membedakan keduanya. Bakso yang mengandung boraks memiliki warna yang lebih putih, sedangkan bakso tanpa boraks memiliki warna abu-abu yang merata. Selain itu, bakso yang mengandung boraks juga awet berhari-hari meskipun tidak dimasukkan kedalam lemari es.

2. Mie basah

Selai bakso, banyak pedagang curang yang mencampur mie basah dengan boraks. Tujuannya tentu agar mie lebih awet dan dapat dijual keesokan harinya jika tidak laku.

Untuk membedakan mie dengan boraks dan tanpa boraks juga cukup mudah. Namun, Anda harus cermat dan teliti. Mie yang mengandung boraks memiliki tekstur yang kenyal, warnanya sangat mengkilat, tidak lengket satu sama lain, serta tidak mudah putus.

3. Kerupuk gendar

Kerupuk gendar alias kerupuk nasi juga kerap menggunakan boraks sebagai bahan pembuatnya. Bahkan hal ini telah dilakukan sejak dulu. Masyarakat biasa mengenalnya sebagai bleng, pijer atau lempeng.

Untuk membedakan kerupuk yang mengandung boraks dengan kerupuk tanpa boraks tidak bisa dibilang mudah. Karena tekstur kerupuk yang renyah. Namun, ketika dimakan kerupuk gendar yang mengandung boraks biasanya meninggalkan rasa getir di mulut.

Dampak mengonsumsi boraks

Pengaruh dari boraks yang terkandung dalam makanan, memang tak langsung terasa setelah Anda mengonsumsinya. Namun, dalam jangka waktu lama boraks yang diserap tubuh akan semakin banyak dan menumpuk. Tumpukan boraks ini akan disimpan tak hanya dalam organ pencernaan tapi juga hati, otak, dan testis.

Boraks yang terserap oleh tubuh memang akan dikeluarkan melalui urin, tinja dan keringat, namun dalam jumlah yang sangat sedikit. Selain itu, boraks juga dapat dengan mudah diserap mudah melalui pencernaan dan kulit.

Timbunan boraks yang ada dalam tubuh akan menyebabkan gangguan kesehatan seperti pusing, muntah, mencret, kejang perut, hingga hilang nafsu makan. Selain gangguan kesehatan ringan, boraks juga mampu menyebabkan anemia, kanker, kejang perut, kerusakan ginjal, hingga kematian.

Ganti boraks dengan fosfat food grade

Mengingat dampak buruk boraks yang amat besar terhadap tubuh manusia, alangkah baiknya jika penggunaan boraks sebagai bahan baku pembuat makanan diganti dengan fosfat food grade yang memiliki sebuatn ilmiah Sodium Tripolyphosphate (STPP).

STPP memiliki fungsi yang jauh lebih baik dibanding boraks serta aman dikonsumsi. Fosfat food grade mampu menghambat perkembangan mikroba sehingga makanan lebih awet, mencegah makanan tengik, menghasilkan tekstur empuk dan kenyal alami, serta dapat mempertahankan nilai nutrisi produk seperti vitamin dan mineral.

Terdapat beberapa produk fosfat food grade yang bisa Anda gunakan, seperti Abastol dan Carnal yang diproduksi oleh Budenheim. Untuk mendapatkannya pun cukup mudah, Anda bisa menghubungi PT. MARKAINDO SELARAS melalui website www.markaindo.co.id atau email marketing@markaindo.co.id. Tidak hanya menyediakan berbagai bahan baku untuk industri makanan, PT Markaindo Selaras juga menjamin food grade dan kehalalan produk.